Pemaksaan Cinta
Tak terasa hampir 3 minggu aku berpacaran dengannya. Dia adik kelasku. Dulunya sebagai adikku. Namun sekarang adalah kekasihku. Yach, aku sendiri juga tak bisa percaya apa yang aku lakukan. Aku hanya terpengaruh oleh perhatiannya yang sangat aku butuhkan ketika aku putus dengan kakak kelasku. Aries,yah aries. Nama itu sangat mempengaruhiku. Sangat, karena itu aku juga kesepian ketika ia meninggalkan aku dengan kesibukan barunya, dunia kampus. Dan aku yakin banyak wanita yang akan dipengaruhinya juga seperti aku. Aku sangat bersalah, ketika Ali menanyakanku apa aku sangat mencintainya. Dan tergambar jelas, aku tidak menginginkannya. Mungkin ia takut untuk membuat aku sakit hati, karena aku kakak kelasnya. Aku sangat bersalah.
Pada mulanya aku hanya ingin perhatiannya. Karena ia begitu dekat di hatiku. Hanya saja rasa ini terlalu kuat jika aku bendung. Tak bisa. Hatiku tak kuat sama sekali. Saat itu aku berpikir, aku harus memilikinya. Karena rasa memiliki ku ini sangat kuat. Bahkan mengalahkan harga diriku. Aku, orang yang mereka kenal mempunyai gengsi yang lebih tinggi dari langit, memberanikan diri untuk memintanya menjadi kekasihku. Entah bagaimana, entah apa yang ku ucapkan, aku tak sadar apa yang telah aku lakukan, akhirnya aku dan dia berpacaran. Ini bukan cinta, itu yang aku sesali. Ini hanya ambisiku yang ingin memilikinya karena aku tak mau merasa kesepian. Aku butuh seseorang untuk melampiaskan rasa haus cintaku. Namun aku tak bisa mengatakannya. Aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Aku takut ia tersakiti, tapi hatiku tak bisa berdusta. Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa padanya. Aku sangat menyesal.
“Halo?” suaranya lirih, entah apa yang menghantuinya belakangan ini. Apa karena kakaknya?
“Ada apa? Kau seperti tidak bersemangat. Apa ada yang harus aku ketahui?” balasku, seperti kakaknya saja. Aku tak bisa menunjukkan cintaku padamu. Itu isi hatiku.
“Kulihat belakangan ini sayang sedih, jadi aku sedih juga. Jadi sebenarnya aku yang bertanya, sebenarnya ada apa?” suaranya semakin indah untuk didengar. Mungkin ini alasan mengapa aku tak bisa meninggalkannya. Suaranya begitu mendamaikan hati.
”Tidak ada apa-apa. Mungkin aku hanya kelelahan. Kenapa kau belum tidur?” aku balik bertanya. Aku tak mau sampai ia mengatakan ia mencintaiku. Akiu tak mau mendengarnya.
“Karena aku selalu memikirkanmu. Terlalu cepatkah bila aku meminta sesuatu? Jangan dulu berpikir macam-macam!” kalimat itu, membuat aku terpana, rasanya aku ingin menangis.
“Asal bukan hal-hal yang aneh. Apa itu?” aku hanya bisa mengatakan itu. Tak bisa aku jawab pernyataanya yang pertama.
“Bisakah kau memangilku dengan kata yang lebih mesra daripada ‘kau’, ‘kamu’? Bagaimana dengan ‘sayang’? Aku tak pernah mendengar kata itu terucap dari bibirmu itu. Atau kau memang tidak menyayangiku?”
Aku hanya bisa diam. Terpana, tak berdaya. Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya, jika aku ini berdusta padanya? Aku sangat bisa, namun ada perasaan yang melarangku mengatakan itu. Apa yang harus ku perbuat lagi?
“Apa kau ragu padaku? Apakah hanya dengan hal itu aku bisa menunjukkan sayang ku padamu?” Maaf, aku tak bisa berkata lain. Aku salah,sangat.
“Bukan begitu. Aku hanya mencoba meminta sesuatu darimu. Apakah itu sulit?” balasnya kilat. Sangat tepat. Menusuk hatiku. Aku tak mau berdusta lagi.
“Sayang, aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun. Dan ini kukatakan dari dalam hatiku.” Aku menitikkan air mata, tapi aku tak mau ia tahu. Aku hanya ingin dia tahu aku ini baik-baik saja. Sulit rasanya lidahku berkata lain. Hatiku mengatakan kalau aku harus jujur, sedangkan lidahku tidak. Aku merasa paling hina di dunia ini. Aku merasa menjadi wanita yang tak bisa dicintai lagi.
“Itu melebihi dari cukup untuk menidurkanku. Aku tahu kau lelah. Beristirahatlah, aku tak mau melihat pacarku satu-satunya terlihat lelah, dikiranya aku tak memberi perhatian padamu. I love you babe, always. Bye honey. Muach…”
Ku tutup handphone ku. Dan aku gemetar. Aku kedinginan. Aku terpaku. Melihat langit yang cerah, bertaburkan planet-planet yang memantulkan sinar matahari. Bulan pun seakan tertawa terbahak-bahak. Apa aku ini bahan lelucon? Aku memang lelucon. Tersenyum manis pada Ali, dan dibelakangnya menangis. Dasar gadis cengeng, bisanya mempermainkan perasaan orang. Bisakah kau berterus terang? Apa yang menghambatmu mengatakan tentang kebenaran? Bukankah selama ini kau sangat membenci orang yang berbohong padamu? Semakin lama kau dan dia, semakin terluka pula hatinya. Dan kau pun akan lebih lama menyesali perbuatanmu. Yah, lepaskan dia.
Atau mungkin jika aku mencintainya, bisa saja rasa bersalahku ini tak akan lagi datang meminta aku berterus terang. Lagipula bukankah ini yang kau inginkan? Mendapat pacar yang sempurna? Yang bisa encintaimu? Dan yang bisa mengusir rasa sepi mu? Ya, lanjutkan rencana mu. Tanpa perlu ia tahu bahwa kau sebenarnya pernah meragukan hubungan ini. Tapi, bagaimana caranya? Sepertinya mudah saja. Tunggu, bagaimana aku bisa jatuh cinta sama Aries? Saat dia dekat denganku. Kita berdua berbicara, saling curhat-curhatan. Kita makan di kantin berdua. Dan aku pun jatuh cinta dan jadian. Aku tak bisa. Aku mencoba untuk jalan-jalan dengannya. Namun tetap saja tak bisa. Aku harus, setidaknya aku mencoba. Apa itu bukan pemaksaan? Aku menekan diriku sendiri untuk mencintai Ali? Aku bingung, dan tak tahu cara apa yang terbaik untukku aku dan Ali.
Kucoba jalani hari-hariku dengan biasa. Kusapa teman-temanku. Kucoba untuk menceritakan, tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Bisakah aku menjadikannya suatu kenangan saja? Karena aku percaya, aku tak bisa ‘menghilangkan’ begitu saja orang dalam hidupku. Apalagi yang pernah dekat denganku. Aku hanya bisa membuatnya menjadi kenangan. Kenangan yang indah atau buruk, itu tergantung dia bertingkah dalam hari-hariku. Ku coba Ali, akan ku coba terus. Akan kulawan rasa anehku padamnu. Aka kuubah rasa bersalahku padamu dengan rasa cinta yang dalam. Walau itu tidak menjamin kita akan bahagia untuk selama-lamanya.
Kulihat kalender. Ini hampir tanggal 23. Oh! Tidak! Sudah hampir 4 minggu aku menjadi pacarnya, tapi sebersit pun perasaan itu tak ada dalam hatiku. 3 hari lagi, akan ku coba. Bila akhirnya pun tak bisa, apa boleh dikata. Ini semua adalah salahku.
Ku tatap wajahku di cermin. Sembari berlakon sedih, aku memegang handphone ku. Aku mencoba mencari kalimat yang menyentuh, namun cepat ditanggapi. Mudah untuk mengakhiri, namun sulit untuk dilupakan.
“Ali, mungkin kita harus berakhir. Aku tak mau melupakanmu. Aku egois, sangat egois. Aku tak mau kau sampai terluka karena perbuatan-perbuatanku padamu.” Sepertinya kalimat ini terlalu aneh.
“Ali! Kau tak berharga bagiku. Kau hanya sampah di kakiku! Jangan pernah ganggu hidupku lagi! Kau akan menyesal!!!” tidak, kalimat ini terlalu berbahaya. Dikiranya aku ini kepala geng.
Huuuuh! Aku memang payah. Seperti ini saja tak bisa. Sudahlah, apa yang terjadi sebentar, aku telah siap. Kini aku rela dia memutuskan aku. Atau mungkin aku yang putuskan dia. Atau mungkin dia tak mau putus dariku. Akh! Cukup Shela! Cukup! Tak aka nada lagi Ali dihadapanmu. Kau akan… mengakhiri hubunganmu dengan Ali.
“…Kita, kita, lupakan saja yang pernah terjadi. Jangan anggap aku ini sebagai apapun juga. Anggap saja aku ini angin yang akan terus di sampingmu, walau kau tak bisa melihatku, memelukku, tapi kau hanya bisa merasakan kalau aku akan terus ada dalam hadirmu. Sudah dulu yah, sepertinya pulsaku mau habis. Cari cewek jangan seperti aku yah. Aku ini bodoh, menyia-nyiakan cintamu. Aku tahu kau tak mencintaiku kan? Kau hanya takut karena aku kakak kelasmu khan? Senang rasanya punya pacar sepertimu. Sayang aku tak bisa mencintaimu. Maafkan aku… oh iya ada satu hal lagi yang ingin aku katakan, aku tak akan pernah melupakanmu. Karena aku ada dalam hadirmu, daaah.” Fuiiih, sepertinya lega bisa berakhir bahagia. Walaupun ada sedikit kebohongan dalamnya. Aku memang bodoh, menyia-nyiakan cintanya. Namun ternyata, ia juga akui tadi, walaupun tak secara langsung. Kalau dia ternyata mungkin tak bisa jadi pacarku. Akh biarlah, setidaknya, aku bisa mengambil hikmahnya. Ternyata pacaran dengan kebohongan itu sangat buruk. Bukan membosankan, tapi itu menyakitkan. Bukan kau saja, dia juga akan terluka. Percayalah, cinta tak bisa dipaksa, karena cinta itu tulus. Tak perlu dengan paksaan.
“Baik, baik aku mengerti, kau putus dengannya, dan kau tak memberi tahu apa yang terjadi selama ini! Akan ku jitak kepalamu!!!” Aku lari menghindari tangan Mershy. Akupun bebas sekarang. Hilang rasa takutku. Hilang rasa bersalahku. Dan aku membebaskan ia memilih wanita siapapun. Aku rela. Dan aku tertawa. Itu tandanya aku bahagia. Karena ternyata cinta tak bisa dipaksakan. Ia tulus. Ia tak mau memperbudak atau diperbudak oleh akal sehat manapun. Ia akan menghampiri kau. Ia akan mendekati engkau dengan tawaran tertawa bersama, menangis bersama, merasakan semua bersama. Aku memang bukan pakar tentang pacaran, tapi yang ku tahu cinta itu tak perlu paksaan. Dia akan mendekatimu. Bagai jitakan Mershy yang mendekati kepalaku.
AUWWWWW!!!!
-T A M A T-
3 comments
if you like writing, we can share each other... well good luck...
REPLYi think it's a nice one..
try this one, if you wanna..
REPLYhttp://senseofspider.blogspot.com
http://senseofpoetry.blogspot.com
yap! pesan dari cerita ini sangat bernilai. "Cinta tidak bisa dipaksakan". Yang penting 'pemeran utama' menyadari kesalahannya,hehe...
REPLY